3+ Cara Persiapan Guru Mengajar Anak SD di Kelas
Home tips & trick

3+ Cara Persiapan Guru Mengajar Anak SD di Kelas

Mengajar anak SD belajar membutuhkan persiapan matang agar meningkatkan motivasi siswa. Berikut adalah tindakan dilakukan memaksimalkan proses belajar di kelas


Mari kita melangkah lebih jauh dengan berbekal pengetahuan tentang karakteristik anak didik kita, bagaimana kita merancang pengajaran untuk anak agar tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan efektif dan efisien.

Tak ketinggalan beberapa poin penting akan dikupas juga disini, mulai dari persiapan bahan ajar, metode dan media. Mengajar anak SD belajar di sekolah akan mendapat porsi lebih banyak pada pembahasan kita, sedangkan mengajar bahasa pada anak usia remaja dan dewasa hanya akan dibahas sebagai bahan referensi saja.

Mengajar adalah kegiatan penyampaian informasi melalui melalui berbagai metode sehingga anak didik mengalami perubahan dan aspek pengetahuan dan keterampilan. Mengajar anak SD membaca, menulis, berhitung, dan lain-lain bisa dikatakan gampang-gampang susah. Perlu beberapa keterampilan khusus agar dapat menarik minat anak didik untuk terus merasa termotivasi.

Berikut merupakan beberapa persiapan guru lakukan, sehingga kegiatan mengajar menghadapi siswa-siswi SD menjadi sempurna:

1. Mengajar Anak dengan mengenal karakteristiknya

Pada masa perkembangan anak 12 tahun kebawah tentu belum mengenal kata-kata atau pun bahasa yang memiliki arti rumit. Artinya perbendaharaan kata mereka kurang. Mengajar anak SD memiliki kemampuan adaptasi tinggi, mereka secara alamiah menguasai bahasa apapun, dengan bantuan sistem kinerja otaknya sendiri.

Anak-anak sekolah dasar memiliki bekal yang sudah diset oleh Tuhan sedemikian rupa dengan sangat canggih, sehingga kemampuan gramatika.

Berikut akan disajikan beberapa keahlian" berbahasa anak-anak yang jika berada di tangan guru yang kreatif dan handal, keahlian‟ ini bisa menjadi nilai lebih dan bekal yang potensial dalam menunjang kemampuan berbahasa.

Akan dilengkapi pula dengan apa yang bisa dilakukan oleh guru, orangtua atau anggota keluarga lain disekitarnya dalam mendukung pencapaian kemampuan berbahasa yang optimal bagi anak.


Mengajar Anak Usia Pra Sekolah (Sebelum SD)

Jenis anak ini adalah berusia antara 3 sampai 5 tahun. Bukan berarti mereka tidak bisa bersekolah, anak-anak tersebut dapat belajar dalam bentuk Play Group.

Anak Pada Umumnya:

  • Senang mendengarkan dan mendiskusikan cerita
  • Tahu bahwa huruf-huruf yang ia baca mengandung pesan
  • Senang dengan aktivitas membaca dan menulis
  • Bisa mengidentifikasi beberapa bentuk alfabet beserta bunyinya

Tindakan Orang tua:

  • Mengobrol banyak dengan anak, libatkan mereka dalam pembicaraan, namai beberapa benda bersama mereka, dan tunjukkan ketertarikan pada apapun yang mereka katakan (yang terakhir ini sangat penting!)
  • Bacakan dan bacakan lagi banyak cerita sederhana yang kosakatanya mudah dipahami, jenis cerita sesuai dengan perkembangan mereka, akhir cerita bisa mereka tebak.
  • Kunjungi perpustakaan secara rutin.
  • Sediakan banyak kesempatan untuk anak menggambar, menulis sesuatu
  • Sediakan di tempat-tempat yang mudah terjangkau olehnya: pulpen, spidol, pensil warna, penghapus dan alat tulis lainnya.

Persiapan Guru lakukan:

  • Berbagi banyak buku dengan si anak
  • Mengajar anak membahas alfabet; nama, bentuk dan bunyinya
  • Mengajar anak menciptakan lungkungan yang kaya dengan bacaan
  • Mengajar anak membaca ulang cerita-cerita favorit mereka
  • Mengajar anak melibatkan anak dalam banyak permainan bahasa
  • Mengajar anak menciptakan aktivitas-aktivitas yang sangat erat kaitannya dengan kegiatan membaca dan menulis (misal, piknik keluar kelas untuk menemukan topik tulisan, ke perpustakaan anak dll)
  • Mendorong siswa untuk banyak bereksperimen mambuat tulisan


Itu adalah beberapa gambaran umum aktivitas berbahasa yang bisa dilakukan oleh anak dan dilatihkan pada anak pada saat usia pra-sekolah. Bagaimana dengan anak-anak usia Taman Kanak-Kanak?

Mengajar Anak TK

Kategori anak usia TK antara 4 sampai dengan 5 Tahun. Tahap ini anak sudah mampu berpikir secara konkret. Mampu menyusun informasi kedalam sistem otak menjadi daya ingat. 

Anak usia TK biasa lakukan:

  • Senang dibacakan cerita, dan mendongengkannya juga pada orang lain
  • Menggunakan bahasa-bahasa deskriptif (permukaannya halus, warnanya putih, bentuknya bulat dll) untuk menjelaskan dan mengeksplorasi sesuatu
  • Mengenali bentuk dan bunyi alfabet
  • Memasangkan kata-kata yang diucapkan/didiktekan dengan yang ditulis
  • Mulai bisa menuliskan bentuk alfabet dan beberapa kata yang sering ditemui anak (didengar, dibaca atau diucapkan)

Tindakan Orang tua:

  • Baca dan ulang-ulang membaca cerita-cerita naratif dan ringan untuk anak
  • Dorong usaha anak untuk membaca dan menulis (lewat pujian, saran dll)
  • Berikan aktivitas menulis dan membaca yang bermakna (melibatkan topik yang mereka sukai, membuat mereka terlibat secara mendalam di dalamnya, dll)
  • Ngobrol dengan mereka di waktu istirahat, atau jika mungkin sepanjang hari.

Guru dapat mengembangkan kegiatan kelas dengan:

  • Dukung perkembangan kosakata mereka dengan banyak membacakan apa saja untuk mereka, pilih materi yang bisa memperluas pengetahuan dan perkembangan bahasa anak.
  • Gunakan strategi untuk mengenali kata-kata yang tidak diketahuinya agar menjadi tahu, baik itu bentuk, bunyi maupun maknanya (dengan games, misalnya)
  • Perkenalkan kata-kata baru dan ajarkan strategi untuk merecall kata-kata tersebut baik makna, bentuk ataupun bunyinya jika tiba-tiba mereka lupa.
  • Bantu mereka untuk membuat piramida bertingkat berisikan kata-kata yang paling sering sampai yang paling jarang dipakai oleh mereka dalam karangan

Bagaimana untuk level sekolah dasar? Tentu proses perkembangan bahasa anak-anak SD berbeda dengan anak TK. Maka dari itulah, strategi guru dan orangtua dalam mengembangkan kemampuan berbahasa mereka mesti berbeda pula. 

Berikut sekilas deskripsinya.

Mengajar Anak SD (Sekolah Dasar)

Usia yang cocok untuk menempuh pendidikan formal antara 6 sampai dengan 12 tahun. Kurang lebih selama 6 (enam) tahun anak akan belajar dimulai dari kelas 1, kelas 2, kelas 3, kelas 4, kelas 5, dan kelas 6.

Anak SD biasanya:

  • Sudah bisa membaca dan menceriterakan kembali cerita-cerita yang dikenal
  • Sudah bisa menggunakan strategi ketika pemahaman terhadap teks terhambat, misal dengan membaca ulang, memprediksi, menanyakan, mengkontekstualisasikan
  • Menggunakan kemampuan membaca dan menulis untuk berbagai tujuan dengan inisiatif mereka sendiri

Peran Orang tua:

  • Dongengkan cerita-cerita favorit mereka, bicarakan buku cerita favorit mereka
  • Bacakan sutu teks pda mereka, dan minta mereka membacakan kembali pada Anda
  • Sarankan anak-anak untuk menulis surat, pesan, memo, atau apa saja, pada temannya.
  • Dorong mereka untuk berbagi pengalaman tentang menulis dan membaca mereka

Kegiatan Mengajar Guru lakukan di kelas adalah:

  • Mengajar anak SD melalui memberikan banyak rangsangan pada anak agar menceritakan pengalaman membaca dan menulisnya
  • Sediakan banyak peluang bagi siswa untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi hubungan-hubungan simbol bunyi dalam konteks yang bermakna.
  • Mengajar anak SD memisahkan kata-kata ke dalam bentuk suku kata (mengeja) ketika mengucapkan kata-kata, kemudian menyatukannya kembali dalam bentuk kata.
  • Sering-seringlah membacakan cerita-cerita yang menarik dan kaya konsep pada anak
  • Mengajar anak SD dengan menciptakan lingkungan yang dekat dengan budaya membaca dan menulis bagi anak, agar anak tertarik atas kemauannya sendiri, membaca dan menulis

2. Mengajar Anak SD berdasarkan antusiasme mereka

Mengajar anak SD menggali fenomena yang asing bagi mereka untuk menarik perhatian. Salah satu hal yang sangat mencolok adalah, anak pasti mempelajarinya dengan lebih antusias dan bersemangat dibanding orang dewasa.

Jika orang dewasa cenderung belajar sesuatu dengan ada maksud menyenangkan gurunya, anak-anak tidak. Mereka akan tetap bisa bersenang-senang meski aktivitasnya mereka tak terlalu mengerti untuk tujuan apa. Namun, pemahaman mereka tentang bahasa yang abstrak akan lebih rendah dibanding orang dewasa.

Mereka cenderung lebih memahami konsep yang konkrit: terlihat, teraba, terasa. Mengajar anak SD mengingat hal inilah, guru harus hati-hati dan penuh pertimbangan dalam menyiapkan dan membawa bahan ajar ke dalam kelas, karena hal tersebut bisa menjadi tantangan, namun jika salah menyikapi akan menjadi hambatan.

Guru juga bijaklah kiranya mempertimbangkan beberapa teori ahli mengenai konsep anak belajar bahasa secara konkret dan kontekstual, seperti berikut.

Teori Piaget

Fokus perhatian Piaget adalah pada masalah anak sebagai pemelajar aktif dan sebagai penanda sesuatu. Anak dipandang sebagai makhluk yang terus berinteraksi dengan lingkungannya, berkutat dengan masalah dan pemecahan masalah yang juga ia dapat dari lingkungannya.

Ketika anak memecahkan masalahnya, disitulah proses belajar terjadi. Anak juga belajar berpikir konkrit karena ia berada pada tahapan usia yang memang membutuhkan kemudahan memahami sesuatu, dengan bantuan hal-hal yang konkret: ia rasa, ia raba, ia lihat.

Karena anak dianggap sebagai pembelajar dan pemikir yang selalu aktif mencari dan menggali, karenanya ia akan terus mencari tujuan dan maksud orang melakukan sesuatu atau berkata sesuatu. Mereka juga aktif menandai sesuatu, namun terbatas pada apa yang mereka alami.

Disinilah peran guru diperjelas, bagaimana guru bisa merespon keadaan ini dalam bentuk strategi-strategi yang bisa diterapkan di kelas. Guru harus menciptakan sebanyak-banyaknya kesempatan di kelas, untuk mengajar anak SD bereksplorasi, memecahkan masalah dan menandai hal-hal baru sebagai pengalaman belajar bagi mereka.

Teori Vygotsky

Vygotsky memiliki teori yang kurang lebih sama dengan Piaget, namun ia lebih menekankan mengajar anak SD berhubungan dengan lingkungan sosialnya terkait dengan perkembangan kognitifnya masing-masing.

Bahasa membantunya memperoleh hal-hal baru, mengorganisasikan hal-hal baru tersebut, membuka kesempatan untuk melakukan hal-hal dan mengorganisasikan hal-hal tersebut melalui kata-kata sebagai symbol.

Disini Vygotsky juga menegaskan bahwa anak belajar melakukan segala hal, pun belajar berpikir, keduanya dibantu oleh orang dewasa. Orang dewasalah yang memfasilitasinya.

Teori Brunner

Brunner mengajukan teori scaffolding dan latihan rutin dalam pemberian latihan serta aktivitas untuk anak. Scaffolding adalah konsep menahan hingga kuat, dan setelah kuat baru dilepaskan. Disini, maksud teori scaffolding dalam mempelajari bahasa adalah, siswa dibimbing, diarahkan dan dibentuk terlebih dahulu dengan berbagai instruksi dan contoh.

Setelah ia kuat, barulah dilepas dan dibiarkan berpikir serta mengembangkan sendiri hal-hal yang ia ketahui. Melakukan latihan rutin diantaranya adalah salah satu cara memperkuat (scaffold). Setidaknya, anak diberi kesempatan untuk „menahan‟ pengetahuannya lewat latihan-latihan rutin, sehingga bahasa baru bisa „bertahan lama, di benaknya karena pembiasaan.

Pengulangan dan latihan rutin akan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan kemampuan berbahasanya pada tingkat yang lebih lanjut.


Teori-teori di atas mempertegas bahwa dalam mengajarkan sesuatu kepada anak, membutuhkan dua hal yang sangat penting.


Pertama, diperlukan upaya untuk mengajar anak SD melalui konsep yang diajarkan menjadi terlihat, terasa dan teraba. Anak bisa memanipulasi apa yang diajarkan melalui panca indera. Konsep ini dinamakan konkretisasi.

Contoh, mengajarkan kosakata, sebisa mungkin guru mengilustrasikan dengan jelas apa yang diperkenalkan. Misal, mengajarkan bahasa Inggris untuk kata „apel‟. Maka guru bisa membawa apel asli atau gambar apelnya.

Anak akan lebih tertarik dan ketertarikan tersebut bisa menjadi motivasi yang baik (baca bab sebelumnya tentang pengaruh pembelajaran yang baik bisa menghasilkan motivasi belajar, dan motivasi ini terkait erat dengan keberhasilan belajar). Jika mengajarkan kosakata „kereta api‟, maka bisa pula diperlihatkan gambarnya (karena benda aslinya tak memungkinkan).

Kedua, diperlukan upaya guru untuk membuat siswa memecahkan maslah melalui petunjuk-petunjuk yang relevan. Stimulan yang bisa menghantarkan pada pemecahan masalah. Hal ini dinamakan kontekstualisasi.

Strateginya adalah:
  1. Mengaitkan-dengan konteks pengetahuan anak yang sudah ada, atau dengan pengalaman hidupnya; 
  2. Mengalami-membuat anak mengalami apa yang dipelajari melalui eksplorasi, diskoveri ataupun invensi (penemuan yang sudah ada maupun yang belum ada sebelumnya)
  3. Menerapkan-hasil yang telah dipelajari diterapkan
  4. Bekerjasama-dalam konteks sharing (berbagi), merespon, dan berkomunikasi dengan anak atau siswa lain
  5. Mentransfer-menggunakan pengetahuan yang sudah diterima terhadap konteks baru atau situasi baru yang tidak didapat di kelas misalnya.

Dua hal ini sangat penting untuk diperhatikan dan diupayakan oleh guru terutama dalam mengajarkan pelajaran Sekolah Dasar (SD) kepada anak-anak. Dua konsep ini bisa diterjemahkan dalam strategi mengajar yang variatif, disertai alat peraga yang relevan dan tepat guna, dan teknik mengajar yang menarik seperti menggunakan permainan atau nyanyian.

Hal-hal tersebut adalah alternatif yang bisa diupayakan guru untuk menjembatani dan memudahkan pemahaman siswa agar proses pembelajaran mereka bisa optimal untuk memperoleh hasil yang juga optimal.

Beberapa hal ini akan dibahas selanjutnya.

3. Mempersiapkan Bahan Ajar, Teknik Mengajar dan Media Pembelajaran

Cara bagaimana anak mempelajari bahasa asing dan bagaimana pula mengajarinya sangatlah bergantung dengan tahapan perkembangannya.

Buatlah bahan ajar yang akan dibutuhkan

Tidaklah beralasan meminta anak mengerjakan tugas yang membutuhkan pengetahuan kompleks, misalnya menggambarkan denah sebuah kota, padahal perkembangannya belum memadai ke arah itu.

Begitu pula, anak berusia 11 atau 12 tahun tidak akan mau merespon dengan baik tugas-tugas atau pembelajaran apabila tugas tersebut dipandang sangat sederhana. Misalnya, siswa kelas VII SMP diberikan materi kelas 1 SD, padahal bila ditinjau dari sudut linguistik, materi itu masih cukup relevan.

Misalnya tentang colour. Maka kemungkinan besar anak tersebut akan ogah-ogahan mengerjakannya.

Dari sini kita dapat menyimpulkan, semakin matang perkembangan usia anak, maka semakin menyeluruh dan sulitlah materi yang ia harapkan.

Anak SD cenderung memahami materi pembelajaran mata pelajaran dengan melihat apakah ia mampu mengerjakannya ataukah tidak, bukan dilihat dari sisi bahwa pembelajaran yang ia terima itu adalah satu bentuk pengayaan intelektual yang sistemnya abstrak.

Biarlah, ia tak usah mengetahui itu.

Materi pengajaran memegang peranan penting dalam pelaksanaan program pendidikan. Materi pembelajaran yang tepat harus benar-benar dipilih secara hati-hati berdasarkan tujuan intruksional dan minat anak. Beberapa jenis buku pelajaran tersedia di banyak toko buku. Guru bisa memilih buku mana yang tepat untuk topik diskusi.

Terapkan Teknik Mengajar Sesuai Topik

Guru seharusnya mampu mempertahankan tingkat motivasi anak dengan senantiasa menciptakan kelas yang menyenangkan, menstimulasi pengalaman bagi anak.

Ada beberapa poin yang sebaiknya dipertimbangkan untuk mempertahankan level motivasi anak:
  1. Aktivitas pembelajaran diupayakan sesedarhana mungkin, agar siswa dapat dengan mudah memahaminya.
  2. Tugas yang diajarkan sebaiknya masih dalam batas-batas kemampuannya, dalam pengertian, tugas pembelajaran tersebut harus tercapai namun disaat yang sama selalu dilakukan stimulus kepada mereka untuk TIDAK merasa puas dengan hasil kerjanya.
  3. Aktivitas pembelajaran sebaiknya ditekankan pada kemampuan oral.
  4. Kegiatan menulis harus benar-benar disesuaikan dengan kemampuan siswa, sebab anak-anak usia 6 atau 7 tahun belum begitu piawai dalam menulis.

Beberapa kegiatan yang nampaknya tepat adalah game dan lagu dengan total physical response, materi ajar yang melibatkan mewarnai, menggunting dan menempel, menceritakan kembali sebuah cerita dan kegiatan berbicara secara sederhana.

Saat anak SD berkembang secara usia dan kemampuan intelektual, motorik dan sosialnya di dalam kelas, maka hal ini dapat diaplikasikan dalam proses memperoleh pengetahuan lainnya.

Dalam masa perkembangan ini, fokus pengajaran dilanjutkan untuk memfungsikan bahasa sebagai alat komunikasi dan bukan hanya tentang aturan tata bahasa, meski dalam kondisi ini sangat dimungkinkan untuk mulai mengeksploitasi kemampuan abstraknya.

Secara umum dapat dikatakan apabila seluruh aktivitas mengajar ini menarik dan menyenangkan, maka ia akan selalu diingat; bahasa yang terlibat akan “melekat”, dan anak-anak akan memiliki sense of achievement yang akan mengembangkan motivasi untuk pembelajaran ke depan.

Penting untuk menjadi bahan pertimbangan mengajar anak untuk sekolah dasar bisa memakai beberapa materi ajar seperti lagu, cerita, permainan dan teks bacaan. Penting untuk menyeleksi materi ajar atau buku teks yang tersedia di toko-toko buku.

Tidak semua bahan ajarnya memberikan stimulasi terhadap kegiatan pembelajaran. Mengajarkan kosakata pada anak tidaklah cukup, tapi biarkan mereka bermain-main dengan bahasanya. Diharapkan anak dapat belajar bahasa dengan melakukan banyak aktivitas, seperti mewarnai, melengkapi, mengulang dan bernyanyi.

Suatu hal yang tidak asing bahwa pembelajar siswa akan belajar lebih baik melalui aktivitas-aktivitas yang menyenangkan. Teknik mengajar harus variatif agar anak tidak bosan. Tepuk tangan, bermain-main, dan membawa objek nyata ke kelas bisa dilakukan oleh guru untuk menciptakan pembelajaran yang menarik.
Berikut adalah persiapan dilakukan guru sebelum mengajar anak sd di kelas

Rancanglah Media Pembelajaran Menarik

Cara mengajar anak SD membutuhkan beberapa media untuk dapat menarik perhatian siswa selama pembelajaran. Efektivitas penggunaan media terutama bagi pemelajar pemula telah terbukti.

Sayangnya, beberapa survey membuktikan hanya 12% guru di sekolah dasar menggunakan media pembelajaran di kelasnya. Di SD penggunaan media merupakan kewajiban. Media pembelajaran yang baik harus memiliki setidaknya tiga peranan dalam mengajar anak SD yaitu:
  1. Sebagai penarik perhatian (attentional role).
  2. Sebagai penyampai komunikasi (communicational role).
  3. Sebagai pengingat (retentional role).

Tujuan menggunakan media adalah agar cara mengajar anak SD dapat menarik perhatian dan memancing rasa penasaran mereka ketika guru mengajar. Dalam kasus ini, gambar dan realita adalah pilihan yang tepat dalam kegiatan belajar-mengajar.

Membuat media tidak harus rumit, bahkan gambar-gambar bekas majalah dapat menarik perhatian anak saat mengajar di kelas. Gambar berwarna yang diambil dari majalah, realita, mainan plastik, kertas lipat dan lain-lain bisa digunakan secara efektif untuk mengajar kosakata dan topik-topik lainnya.

Gambar buatan guru tidak akan memakan banyak biaya tapi merupakan media yang efektif. Satu lagi peran media yang tak bisa dinafikkan, yaitu mengkonkretkan hal-hal yang abstrak dan mengkontekstualisasikan sehingga mengajar anak SD mempermudah mereka mengingat pelajaran di kelas.

Memang, dibutuhkan kreativitas, kesabaran, dan keinginan kuat dari guru untuk menciptakan media pembelajaran saat mengajar anak SD menjadi lebih baik.

Baca juga :

Subscribe Via Email Gratis

to Top