Kompetensi Guru Profesional Meningkatkan Proses Belajar Mengajar
Home Kompetensi Guru

Kompetensi Guru Profesional Meningkatkan Proses Belajar Mengajar

Kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Kompetensi guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini yang meliputi: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.

Tugas guru belum tentu gampang, seorang guru harus memiliki kompetensi agar layak mengajar di kelas

Dalam hal keterampilan, seorang guru harus menguasai kompetensi mengajar, yaitu: membuka dan menutup pelajaran, bertanya, memberi penguatan, dan mengadakan variasi mengajar. Dalam proses belajar-mengajar, guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor dan merupakan faktor yang sangat dominan dalam menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar di kelas.

Sebelum menjadi guru, semua calon guru dilatih dan dibekali dengan hal-hal yang berkaitan dengan kode etik keguruan dan juga pengalaman yang didapat melalui PPL. Program Pengalaman Lapangan  (PPL) merupakan muara dari segenap kemampuan yang telah diperoleh mahasiswa selama belajar di LPTK, maka keberhasilan mahasiswa calon guru dalam kegiatan PPL, mengisyaratkan keberhasilan mereka dalam mengemban profesi keguruan kelak setelah mereka memangku jabatan keguruan.

Walaupun guru baru pernah mengikuti program PPL dan telah dinyatakan lulus dengan nilai baik, namun setelah bertugas beberapa tahun di sekolah tetap memiliki kelemahan-kelemahan.

Kelemahan tersebut dapat terlihat dalam hubungannya dengan para guru senior, hubungannya dengan peserta didik-siswi, hubungannya dengan kepala sekolah, persiapan mengajar, penyediaan alat bantu mengajar, cara mengelola kelas, cara menjelaskan materi, cara bertanya, maupun penguasaannya terhadap materi pelajaran

Proses Belajar-Mengajar

Proses belajar mengajar adalah kegiatan saling berinteraksi antar guru dengan siswa atau siswa dengan siswa lainnya untuk saling meningkatkan kemampuan baik pengetahuan dan juga keterampilan.

Banyak penelitian-penelitian dilakukan oleh berbagai ahli untuk meningkatkan kualitas dari pendidikan itu sendiri. Lalu seperti apa pengertian dari proses belajar mengajar menurut para ahli tersebut?

Pengertian Proses Belajar Mengajar Menurut Para Ahli

Makin intensif pengalaman yang dihayati oleh peserta didik makin tinggilah kualitas proses belajar yang dimaksud. Dalam proses belajar-mengajar ini perlu diperhatikan dua teori psikologi, yaitu teori tingkah laku dan teori kognitif.

Kedua teori itu mempunyai perbedaan dalam hal anak-anak belajar. Teori tingkah laku lebih menekankan atau lebih memperhatikan pada apa yang dipelajari anak sedangkan teori kognitif lebih menekankan kepada bagaimana anak belajar.

Berikut adalah beberapa pendapat dari para ahli mengenai proses belajar mengajar:

Soedijarto (1991: 160-161)

Menyatakan bahwa yang dimaksud dengan proses-belajar adalah segala pengalaman belajar yang dihayati oleh peserta didik. Peningkatan kualitas lulusan pendidikan dasar dan pendidikan menengah harus bertumpu pada peningkatan kualitas proses belajar mengajar.

Akbar (1991: 2)

Menyatakan bahwa para ahli ilmu jiwa seperti Piaget, Bruner, Brownell, Skemp, percaya bahwa jika hendak memberi pelajaran tentang sesuatu kepada anak kita perlu memperhatikan tingkat perkembangan berpikir anak yaitu, (1) tahap sensori motor, (2) tahap pra operasional, (3) tahap operasional dan (4) tahap formal.

Bruner (dalam Akbar, 1991: 3)

Menekankan bahwa setiap individu pada waktu mengalami (mengenal) peristiwa (benda) di dalam lingkungannya, menemukan cara untuk menyatukan peristiwa (benda) tersebut di dalam pikir-annya, yaitu suatu model mental tentang peristiwa (benda) yang dialaminya (dikenalnya). Selanjutnya dikemukakan bahwa hal tersebut dilakukan menurut urutan tingkat, yaitu (1) enactive, (2) ikonic, dan (3) symbolic.

Soedijarto (1991: 161)

Menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi langsung proses belajar adalah guru dan pelajar, namun yang paling berpengaruh terhadap mutu hasil belajar adalah latar belakang kognitif pelajar disusul dengan sistem evaluasi dan kualitas proses belajar. Sedang yang mempengaruhi langsung kepada guru adalah materi dan sistem penyajian bahan, sistem administrasi, dan sistem evaluasi.

Dalam proses belajar-mengajar yang pada hakekatnya adalah suatu pekerjaan mendidik dan bukan semata-mata mengajar dalam arti teknis, harus terjadi interaksi yang merupakan komunikasi dua arah, sebab manusia pada hakekatnya juga tumbuh dan berkembang dalam hubungan dengan sesamanya.

Di samping itu, guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor yang sangat dominan dalam menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar di kelas. Proses belajar mengajar tersebut bertumpu pada upaya: (1) optimalisasi interaksi antar unsur-unsur yang terdapat dalam proses belajar itu, dan (2) optimalisasi keikutsertaan seluruh sense peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung.

Peranan Guru dalam Proses Belajar Mengajar

Guru berperan sebagai pendidik dan pengajar. Pada dasarnya, mengajar merupakan suatu usaha untuk mencipta-kan kognisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk berlangsungnya proses belajar.

Herman (1988: 5) memberikan pengertian bahwa mengajar adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik. Mengajar bertujuan agar pengetahuan yang disampai-kan dapat dipahami oleh peserta didik. Oleh karena itu, mengajar dikatakan baik apabila hasil belajar peserta didik baik.

Pernyataan ini dapat dipenuhi bila pengajar mampu memberikan fasilitas belajar yang baik sehingga dapat terjadi proses belajar yang baik. Salah satu faktor yang dapat mengoptimalkan proses belajar mengajar dalam mencapai mutu hasil belajar yang berkualitas adalah peranan guru.

Guru merupakan unsur yang penting, meskipun tidak selalu harus ditafsirkan sebagai unsur yang dominan dan guru sebagai ujung tombak pendidikan formal, perlu dibekali kemampuankemampuan yang dapat mendorong kreativitasnya.

Untuk itu haruslah diketahui macam kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik melalui kegiatan belajar mengajar. Guru tidak lagi sebagai pemberi ceramah dan penyaji informasi, lebih mengutamakan kemampuan merencanakan, dan pengelolaan kelas.

Guru harus menguasai materi pelajaran secara mantap dan mengembangkan model belajar yang relevan seperti model pembelajaran kelompok dengan bahan pelajaran. Berikut dikemukakan beberapa prinsip mengaktifkan mengajar (Conny, 1992: 10-13) adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Keterarahan kepada Titik Pusat atau Fokus Tertentu.
Pelajaran yang direncanakan dalam suatu bentuk atau pola tertentu akan mampu mengaitkan bagian-bagian yang terpisah dalam suatu pelajaran. Tanpa suatu pola, pelajaran dapat terpecah-pecah dan para peserta didik akan sulit memusatkan perhatian.

Titik pusat itu dapat tercipta melalui upaya merumuskan masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab atau merumuskan konsep yang hendak ditemukan. Titik pusat itu akan membatasi keluasan dan kedalaman tujuan belajar serta akan memberikan arah kepada tujuan yang hendak dicapai.

2. Prinsip Hubungan Sosial atau Sosialisasi
Dalam belajar para peserta didik perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Ada kegiatan belajar tertentu yang akan lebih berhasil jika dikerjakan secara bersama-sama, misalnya dalam kerja kelompok, daripada jika dikerjakan sendirian oleh masing-masing peserta didik. Mereka dapat dibagi ke dalam kelompok dan kepada setiap kelompok diberikan tugas yang berbedabeda. Latihan bekerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan kepribadian anak.

3. Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Anak-anak pada hakikatnya belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Bekerja adalah tuntutan pernyataan diri anak. Karena itu, anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang melibatkan otot dan pikirannya.

Semakin anak bertumbuh semakin berkurang kadar bekerja dan semakin bertambah kadar pikir. Apa yang diperoleh anak melalui kegiatan bekerja, mencari dan menemukan sendiri tak akan mudah dilupakan. Hal itu akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran anak. Para peserta didik akan bergembira kalau mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan kemampuan bekerjanya.

4. Prinsip Perbedaan Perorangan atau Individualisasi
Setiap peserta didik tentu saja memiliki perbedaan perorangan, misalnya dalam kadar kepintaran, kegemaran, bakat, latar belakang keluarga, sifat, dan kebiasaan. Para guru seyogyanya tidak memperlakukan anak-anak seolah-olah semua peserta didik itu sama. Jika perbedaan perorangan peserta didik yang dipelajari dan dimanfaatkan dengan tepat, maka kecepatan dan keberhasilan belajar anak demi anak dapatlah ditumbuhkembangkan.

5. Prinsip Menemukan
Para guru telah menjejalkan seluruh informasi ke dalam benak anak. Anak sendiri pada hakikatnya telah memiliki potensi dalam dirinya untuk menemukan sendiri informasi itu. Biarkanlah, berilah kesempatan kepadanya untuk mencari dan menemukan sendiri.


Informasi yang disampaikan guru hendaknya hanya dibatasi pada informasi yang benar-benar mendasar dan "memancing" peserta didik untuk "mengail" informasi selanjutnya. Jika kepada para peserta didik diberikan peluang untuk mencari dan menemukan sendiri, maka mereka akan merasakan getaran pikiran, perasaan dan hati. Getaran-getaran dalam diri anak ini akan membuat kegiatan belajar itu tidak membosankan dan malah menggairahkan.

Soedijarto (1993: 89) mengemukakan bahwa dalam usaha meningkatkan kualitas proses dan mutu hasil belajar akan diguguskan dalam empat gugus kemampuan yaitu:
  1. Merencanakan program belajar-mengajar
  2. Melaksanakan dan memimpin proses belajarmengajar
  3. Menilai kemajuan proses belajar-mengajar dan 
  4. Menafsirkan dan memanfaatkan hasil penilaian kemajuan belajar mengajar dan informasi lainnya bagi penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan proses belajar mengajar.

Kompetensi Profesional Guru dalam Mengajar

Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Dalam hal profesional, seorang guru harus menguasai keterampilan mengajar dalam hal: membuka dan menutup pelajaran, bertanya, memberi penguatan, dan mengadakan variasi mengajar.

Wijaya (1992: 25-30) menyatakan bahwa kemampuan profesional yang harus dimiliki guru dalam proses belajar mengajar adalah:
  1. Menguasai bahan
  2. Mengelola program belajar mengajar
  3. Mengelola kelas
  4. Menggunakan media sumber
  5. Menguasai landasan-landasan kependidikan
  6. Mengelola interaksi belajar mengajar
  7. Menilai prestasi peserta didik untuk kepentingan pengajaran
  8. Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan
  9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
  10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasilhasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.

Tujuan Kompetensi Guru

Kompetensi yang harus dimiliki guru tersebut memiliki beberapa tujuan selama mengajar yaitu:
  1. Meningkatkan keterampilan bertanya bagi guru agar proses belajar mengajar tidak berlangsung monoton dan tidak hanya terjadi interaksi satu arah
  2. Meningkatkan keterampilan guru dalam pengelolaan kelas agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan aman dan tertib
  3. Meningkatkan keterampilan guru dalam mengadakan variasi mengajar, terutama variasi penggunaan media, variasi pandangan dan perhatian, serta variasi penggunaan metode mengajar, dan 
  4. Meningkatkan keterampilan guru dalam menjelaskan materi yang diajarkan.


Salah satu bentuk bimbingan profesional yang diberikan kepada guru berdasarkan kebutuhannya adalah melalui daur ulang (supervisi klinis) yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan yang cermat atas pelaksanaan dan analisis yang sistematis dan intensif terhadap penampilan mengajar sesungguhnya.

Balikan dari hasil analisis itu digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan pengajaran kembali dan seterusnya, guna meningkatkan keterampilan dasar mengajar dan menumbuhkembangkan sikap profesional guru.

Bafadal (1992: 104) menjelaskan bahwa supervisi klinis mempunyai tiga tahapan yang berbentuk siklus, yaitu tahapan pertemuan perencanaan, tahapan observasi kegiatan mengajar, dan tahapan pertemuan balikan. Hubungan siklis dari ketiga tahapan tersebut dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut.

Terdapat 3 tahap pelaksanaan supervisi klinis dalam mengajar yaitu:
Tahapan Pelakasaan Supervisi Klinis

Penjelasan tentang kegiatan yang dilakukan pada masing-masing tahapan pelaksanaan supervisi diuraikan sebagai berikut.
  • Pertemuan Perencanaan. Pada pertemuan perencanaan ini, guru senior dan guru mendiskusikan secara bersama-sama rencana pembelajaran yang disiapkan oleh guru. Diskusi dipusatkan pada tujuan pengajaran, kegiatan mengajar belajar, ketrampilan mengajar dan alat bantu untuk mencapai tujuan, serta evaluasinya.
  • Pengamatan Kegiatan Mengajar. Pada pengamatan kegiatan mengajar merupakan tahap pelaksanaan rencana yang sudah disepakati oleh guru senior dan guru. Guru melakukan kegiatan mengajar belajar di kelas sambil dilakukan perekaman semua kegiatan, mulai membuka pelajaran sampai dengan menutup pelajaran.
  • Pertemuan Balikan. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengobservasi tayang-an ulang hasil rekaman audio visual. Kegiatan ini dilakukan oleh guru senior termasuk guru dan wakil dari peserta didik untuk mengamati kelebihan serta kelemahan yang dilakukan oleh guru serta mencatatnya ke dalam lembar observasi yang telah disediakan.

Selanjutnya, hasil observasi tersebut ditunjukkan, dikonfirmasikan, dianalisis, dan ditafsirkan secara bersama-sama untuk menindaklanjuti pada pengajaran berikutnya. Pendekatan pembelajaran memberi kesempatan kepada guru untuk memberi refleksi atau unjuk kerjanya.

Dengan melakukan refleksi, guru dapat mengetahui di mana letak kelemahan dan kelebihan yang dilakukan selama mengajar. Dengan mengetahui kelemahannya maka guru dapat memperbaiki kelemahan tersebut pada kegiatan mengajar belajar selanjutnya.

Dengan demikian diharapkan guru terus berusaha untuk memperbaiki diri sehingga kelak akan menjadi guru yang profesional, yaitu guru yang sadar akan kemampuan dan keterbatasannya dan dapat memprakarsai perbaikannya.

Akhir Kata

Berdasarkan uraian di atas, maka dikemukakan beberapa kesimpulan berikut.
  1. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini yang meliputi: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. 
  2. Kompetensi guru merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
  3. Kompetensi mengajar minimal seorang guru adalah menguasai keterampilan mengajar dalam hal: membuka dan menutup pelajaran, bertanya, memberi penguatan, dan mengadakan variasi mengajar.

Baca juga :

Subscribe Via Email Gratis

to Top