Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw: Langkah, Kelebihan, Kekurangan
Home Model Pembelajaran

Pengertian Model Pembelajaran Jigsaw: Langkah, Kelebihan, Kekurangan

Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw - Keberhasilan siswa untuk belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor dari dalam diri seorang siswa sendiri seperti motivasi atau keinginan untuk mempelajari suatu hal.

Faktor eksternal adalah faktor pendukung atau dorongan yang berasal dari luar siswa seperti metode belajar yang digunakan, fasilitas dan prasarana, hubungan siswa dengan guru serta suasana kelas dan sebagainya. Dengan adanya motivasi yang dimiliki oleh siswa dan didukung dengan adanya fasilitas serta suasana kelas yang menyenangkan dalam aktivitas pembelajaran siswa mendapatkan pengetahuan yang baik.

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya strategi belajar yang mampu menumbuhkan minat belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Salah satu adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat, sehingga dapat melibatkan siswa di dalam proses belajar mengajar sehingga siswa lebih aktif.

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu strategi pembelajaran yang mengajarkan kerja sama antar siswa, saling membantu, saling menghargai, dan mengaktifkan siswa. Salah satu pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan adalah metode Jigsaw yang membagi siswa dalam kelompok kecil yang sama. Keunggulan dari metode jigsaw ini yakni mengajarkan siswa untuk saling bekerja sama, menghargai dan bertanggung jawab dalam membantu sesama anggota kelompok untuk belajar.

Pada model Pembelajaran Kooperatif Metode Jigsaw, setiap siswa memiliki tugasnya masing-masing untuk dikerjakan di kelompok ahli, sebelum mengajarkan pada teman-temannya sehingga setiap siswa mendapatkan tugas, aktif dalam pembelajaran dan saling bekerjasama serta saling membantu teman dalam mencapai kompetensi

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Para Ahli

Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran berpusat kepada siswa dengan cara membentuk kelompok belajar.

Rusman (2014: 202) menyatakan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok- kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan sruktur kelompok yang bersifat heterogen.

Nur dalam Isjoni (2013: 26) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berhasil mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik.

Bern dan Erickson dalam Komalasari (2010: 62) mengemukakan bahwa cooperative learning (pembelajaran kooperatif) merupakan strategi pembelajaran yang mengorganisir pembelajaran dengan menggunakan kelompok belajar kecil di mana siswa bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Slavin dalam Komalasari (2010: 62) menjelaskan keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara berkelompok.

Disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 6 orang siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Kemampuan dan aktivitas dari anggota kelompok pada elemen pembelajaran kooperatif dapat mempengaruhi keberhasilan belajar dari kelompok.
Jigsaw adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw 

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot di Universitas Texas dan kemudian diadaptasikan oleh Slavin di Universitas John Hopkins.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sengaja dirancang agar siswa melakukan proses belajar secara berkelompok dengan cara menjaga tanggung jawab, kerja sama kepada sesama teman. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain, sehingga baik kemampuan secara kognitif maupun sosial siswa sangat diperlukan.

Menurut Fathurrohman (2015: 63) model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu teknik pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan memiliki kemampuan menjadi tutor sebaya untuk membantu anggota dalam 1 kelompok memahami topik pelajaran.

Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, dibagi menjadi kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal adalah kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam.

Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli adalah kelompok siswa yang terdiri dari anggota dari kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas- tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Hamdayama (2015: 87) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model belajar kooperatif, siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerja sama positif dan anggota kelompok memiliki kewajiban dalam mengajari anggota kelompok yang kurang mampu dalam mempelajari materi pelaja.

Isjoni (2013: 77) menjelaskan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa aktif dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran untuk mencapai prestasi yang maksimal.

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah salah satu model belajar kooperatif yang menitikberatkan pada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil (Rusman, 2010).

Fathurrohman (2015) mengatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah model pembelajaran kooperatif dengan siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi yang harus dipelajari dan manyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok lain.

Dari pengertian tersebut, maka model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa membentuk kelompok kecil yang terdiri dari empat sampai enam orang secara heterogen dan saling berketergantungan positif serta bertanggung jawab pada materi yang dipelajari secara mandiri.

Langkah Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw Menurut Para Ahli

Menurut Zaini (2008) 

  1. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang maisng-masing beranggotakan 4 sampai 5 orang dengan karakteristik yang heterogen.
  2. Bahan diskusi dibagi kepada siswa dan setiap siswa bertanggung jawab untuk mempelajari satu bagian dari bahan diskusi tersebut.
  3. Salah satu anggota dari beberapa kelompok yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari satu bahan diskusi yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bahan diskusi tersebut. Kelompok ini dinamakan sebagai kelompok ahli.
  4. Selanjutnya, para siswa yang berbeda dalam kelompok ahli kembali ke kelompok asal untuk mengajar anggota kelompok asalnya mengenai materi yang telah dipelajari dalam kelompok ahli.
  5. Setelah diadakan diskusi dalam kelompok asal, para siswa dievaluasi secara individual mengenai materi yang telah dipelajari.

Menurut Wena (2014) 

  1. Kelas dibagi dalam kelompok, tiap kelompok siswa terdiri atas 4-5 siswa yang bersifat heterogen dari segi kemampuan, jenis kelamin, budaya dan sebagainya.
  2. Tiap kelompok diberi bahan ajar dan tugas-tugas pembelajaran yang harus dikerjakan.
  3. Dari masing-masing kelompok diambil seorang anggota untuk membentuk kelompok baru (kelompok pakar) dengan membahas tugas yang sama. Dalam kelompok ini diadakan diskusi antara anggota kelompok pakar.
  4. Anggota kelompok pakar kemudian kembali lagi ke kelompok semula, untuk mengajari anggota kelompoknya. Dalam kelompok ini diadakan diskusi antara anggota kelompok.
  5. Selama proses pembelajaran secara kelompok guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.
  6. Tiap minggu atau dua minggu, guru melaksanakan evaluasi, baik secara individu maupun kelompok untuk mengetahui kemajuan belajar siswa.
  7. Bagi siswa dan kelompok siswa yang memperoleh nilai hasil belajar yang sempurna diberi penghargaan. Jika dalam pelaksanaan pembelajaran tipe jigsaw, semua kelompok belajar siswa memperoleh nilai sempurna, maka semuanya wajib diberikan penghargaan (reward)

Menurut Hamdayama (2015: 88-89)

  1. Membentuk kelompok heterogen yang beranggotakan 4-6 orang. 
  2. Tiap orang dalam kelompok diberi subtopik yang berbeda.
  3. Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan subtopik masing-masing dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli.
  4. Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan semua subtopik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok.
  5. Kelompok ahli berdiskusi untuk membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik tersebut. 
  6. Setelah memahami materi, kelompok ahli menyebar dan kemali kekelompok masing-masing, kemudian menjelaskan materi kepada rekan kelompoknya.
  7. Tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi.
  8. Guru memberikan tes individual pada akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan.
  9. Siswa memberikan tes individual atau kelompok yang mencakup semua topik.

Majid (2015: 183)

  1. Melakukan kegiatan membaca untuk menggali informasi. Siswa memperoleh topik-topik permasalahan untuk dibaca, sehingga mendapatkan informasi dari permasalahan tersebut.
  2. Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatkan topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok, atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicarakan topik permasalahan tersebut. 
  3. Laporan kelompok. Kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan hasil yang didapatkan dari diskusi tim ahli.
  4. Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.
  5. Perhitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok.

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menurut Kurniasih dan Sani (2016: 27-28) 

Demi meningkatkan keberhasilan, dibutuhkan peran guru dalam menerapkan pembelajaran jigsaw selama proses belajar mengajar, perlu untuk membuat persiapan yang matang. Adapun langkah-langkah yang harus diikuti adalah:

  • Persiapan 

Guru dapat menjabarkan isi topik secara umum, serta memotivasi siswa dan menjelaskan tujuan mempelajari topik yang akan dibahas.

  • Penjelasan materi

Materi pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dibagi menjadi beberapa bagian pembelajaran tergantung pada banyak anggota dalam setiap kelompok serta banyaknya konsep materi pembelajaran yang ingin dicapai dan yang akan dipelajari oleh siswa.

  • Guru membagi siswa ke dalam kelompok asal dan ahli

Kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe jigsaw beranggotakan 3-5 orang yang heterogen baik dari kemampuan akademis, jenis kelamin, maupun latar belakang sosialnya.

  • Guru menentukan skor awal masing-masing kelompok

Skor awal merupakan skor rata-rata siswa yang diambil dari kuis atau nilai tertentu yang telah ditetapkan.

  • Rencana kegiatan

  1. Setiap kelompok membaca dan mendiskusikan sub topik masing-masing dan menetapkan anggota ahli yang akan bergabung dalam kelompok ahli.
  2. Anggota ahli dari masing-masing kelompok berkumpul dan mengintegrasikan semua sub topik yang telah dibagikan sesuai dengan banyaknya kelompok.
  3. Setiap siswa ahli akan kembali ke kelompok untuk membantu anggota dalam mempelajarai topik diskusi.
  4. Siswa mengerjakan tes individual atau kelompok mencakup semua topik.
  5. Pemberian penghargaan kelompok berupa skor individu dan skor kelompok atau menghargai prestasi kelompok.

  • Melakukan evaluasi

Dalam evaluasi ada tiga cara yang dapat dilakukan:
  1. Mengerjakan kuis individual yang mencakup semua topik.
  2. Membuat laporan mandiri atau kelompok.
  3. Presentasi.

Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw

Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan, begitu juga model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw. 

Kurniasih dan Sani (2016: 25-26) 

Menjabarkan beberapa kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebagai berikut.

  • Kelebihan:

  1. Mempermudah tugas guru mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas mengajari temannya.
  2. Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang yang lebih singkat.
  3. Metode pembelajaran membantu siswa agar dapat berlatih lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.

  • Kekurangan:

  1. Pembelajaran didominasi oleh siswa aktif
  2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berfikir rendah akan menglami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli.
  3. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
  4. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.

Ibrahim, dkk., dalam Majid (2015: 184) 

Mengemukakan kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebagai berikut.

  • Kelebihan:

  1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain.
  2. Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan.
  3. Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya.
  4. Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif.
  5. Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.

  • Kekurangan:

  1. Membutuhkan waktu yang lama.
  2. Siswa yang pandai cenderung tidak mau disatukan dengan temannya yang kurang pandai, dan yang kurang pandai pun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai, walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.

Hamdayama (2015: 89) 

Mengemukakan kelebihan dan kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw sebagai berikut.

  • Kelebihan:

Tugas guru menjadi lebih mudah, sebab dalam pembelajaran menggunakan jigsaw terdapat tutor sebaya
Pemerataan penguasaan materi dapat dicapai dalam waktu yang lebih singkat.
Siswa dapat berlatih berbicara di depan umum secara aktif

  • Kekurangan:

  1. Kontrol terhadap diskusi kelompok lebih mengarah kepada siswa para ahli
  2. Siswa yang memiliki kemampuan membaca dan berpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli.
  3. Siswa yang cerdas cenderung merasa bosan.
  4. Pembagian kelompok yang tidak heterogen, dimungkinkan kelompok yang anggotanya lemah semua.
  5. Penugasan anggota kelompok untuk menjadi tim ahli sering tidak sesuai antara kemampuan dengan kompetensi yang harus dipelajari.
  6. Siswa yang tidak terbiasa berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan dalam model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terdapat kelebihan dan kekurangan. 
Kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw yaitu dapat melatih siswa untuk lebih aktif serta melatih kerjasama, siswa dapat menguasai pelajaran dalam waktu yang singkat dan setiap siswa dapat mengisi satu sama lain. Sedangkan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw terletak pada dominasi siswa yang aktif dalam diskusi dan waktu yang dibutuhkan lama.

Akhir Kata

Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model yang sederhana namun, siswa perlu memahami jalannya pembelajaran dengan metode yang akan diterapkan. 

Sebelum pembelajaran berlangsung, guru harus terlebih dahulu menyampaikan pemahaman awal dengan jelas mengenai tugas dan peran siswa dalam kelompok asal dan ahli agar pembelajaran berlangsung dengan efektif. 

Diharapkan kepada guru-guru yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw hendaknya lebih merencanakan pembagian waktu dengan baik.

Baca juga :

to Top